Minggu, 08 Juni 2014

Pengapuran Lutut

Pengapuran Lutut
Apa sih pengaupran tulang pada lutut itu ?
Definisi dari Osteoarthritis pada lutut

Nyeri pada lutut sangatlah umum di Asia, khususnya untuk seseorang diatas 40 tahun. Yang paling umum menyebabkan sakit pada lutut adalah degeneratif osteoarthritis, juga dikenal dengan perkapuran. Penyakit ini lebih banyak terjadi pada wanita. Ciri khas penyakit ini dirasakan dengan sakit disertai dengan rasa nyeri. Pengobatan dapat dilakukan mulai dari fisioterapi, medikasi, suntikan dan operasi. Ketika kondisi tersebut telah didiagnosa, sangatlah penting untuk memilih pengobatan sesuai dengan usia dan seberapa parahnya kondisi yang dialami.
Gejalanya:
Gejala dari osteoarthritis umumnya sakit, bengkak, kaku pada lutut. Osteoarthritis berkembang secara bertahap, tetapi dapat juga merasakan sakit yang mendadak pada lutut.
Diagnosanya:
Seseorang harus mengunjungi dokter untuk mendiagnosa. Setelah melakukan tes fisik, dan meneliti gejalanya secara keseluruhan, kadang kala dokter juga merekomendasikan X-ray untuk memastikan penyakit tersebut. X-ray sangat membantu untuk mendiagnosa dan digunakan hampir untuk semua penyakit pada lutut.
Pengobatannya:
Mengurangkan berat badan untuk meringankan tekanan pada tulang sambung lutut yang berlebihan, Glukosamin Sulphate 1500mg per hari, obat anti inflamasi, suntikan lubricant pada lutut, operasi arthroscopic untuk mengeluarkan cairan inflamasi, membersihkan dan mengeluarkan tulang muda / perkapuran dalam lutut, operasi penggantian lutut (untuk kondisi osteoarthritis yang parah)
Sumber : http://jani-orthoprost.com/pengapuran-lutut.html

Ortotik Prostetik

Ortotik Prostetik

        Ortotik Prostetik sesungguhnya sudah ada / sudah dimulai sejak Jaman Kuno yaitu kira kira 2500 tahun sebelum masehi (2500 SM ), ini dapat dibuktikan dengan adanya Mumi Mumi yang menggunakan Splint / alat penguat atau pengeras yang ada dan tersimpan sampai sekarang di museum museum di Negara Mesir.
        Sedangkan orang orang Romawi dan Yunani telah menggunakan Ortosa Prostesa kira kira 900 tahun sebelum masehi ( 900 SM ) yaitu salah satu contohnya  adalah pemakaian baju baju besi yang digunakan oleh tentara tentara Yunani Romawi yang berfungsi sebagai pelindung tubuh dari serangan senjata musuh.
Perkembangan Ortotik Prostetik mengalami  kemajuan yang sangat pesat baik dilihat dari bidang tehnologi maupun social yaitu mulai pada abad ke 16.
            

            Sedangkan di Indonesia pada kususnya dan dikawasan Asia pada umumnya alat alat Ortotik Prostetik dimulai sesudah perang Dunia ke II dimana pada saat itu pemberian Ortosa Prostesa dimaksudkan untuk menolong tentara tentara yang cacat / sakit akibat perang.


Di Indonesia kota Solo adalah merupakan kota yang pertama kali  bagi perkembangan Ortotik Prostetik yang dirintis dan dibina oleh Prof. Dr. Soeharso dan Soeroto Reksopranoto. Pada tahun1946 Prof. Dr. Soeharso dan Soeroto Reksopranoto mendirikan bengkel Ortotik Prostetik disebuah garasi yang kecil untuk tempat membuat prothesa dan orthosa, karena melihat banyaknya pemuda yang cacat akibat perang.
Bermuda dari bengkel yang kecil itulah Prof. Dr. Soeharso merintis, mengembangkan serta mempunyai gagasan untuk mendirikan Rumah Sakit Kusus Ortosa Prostesa, sehingga mula mula didirikan Lembaga Ortopaedi dan Prostesa ( LOP ) pada tahun 1953, yang kemudian berkembang menjadi Rumah Sakit Ortopaedi dan Prostesa pertama di Indonesia. Dan juga mendirikan Pusat Rehabilitasi Centrum Prof. Dr. Soeharso. Dari kota Solo Ortotik Prostetik selanjutnya berkembang dan menyebar diseluruh wilayah Indonesia di kota kota besar seperti di pulau Jawa, Medan, Palembang, Manado serta Ujung Pandang yaitu dengan didirikannya Unit Rehabilitasi Medik di Rumah Rumah Sakit dimana Bag. Ortosa Prostesa termasuk didalamnya.
Karena tuntutan jaman serta kebutuhan akan tenaga  Ortotist Prostetist maka pada tahun 1982 dibuka pendidikan formal setingkat sarjana muda ( D III / OP ) di Akademi Fisioterapi Surakarta dan meluluskan 17 Tenaga OP. Karena keterbatasan dana maka pendidikan tersebut hanya meluluskan satu angkatan, baru pada tahun 2003 dibuka kembali pendidikan formal OP yaitu Poltekes Surakarta Prodi OP, pada tahun 2007 menjadi jurusan OP.
Pada tahun 1987 dari alumni alumni DIII/OP tahun 1986 antara lain Sutardi SpOTek, Hari Setiawan SMOP, Supardi (tehnisi OP) dan lain lain (yang saat itu ingin sekali mempraktekan dan sekaligus mengabdikan ilmu OP yang didapat di bangku kuliah kepada masyarakat umum yang memerlukan) berkumpul dan membuat wadah pelayanan OP yang dinamakan ORPROS’T.
ORPROS’T adalah salah satu badan usaha dalam bidang pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan / mengadakan / menyediakan alat alat Bantu anggota gerak palsu maupun alat alat Bantu penyangga / penguat bagi mereka yang mengalami gangguan fisik yang disebabkan karena amputasi / kehilangan anggota gerak tubuh, kelayuhan / kelemahan otot, fraktur, kontraktur / keterbatasan gerak sendi, kelainan bentuk fisik, kelaianan tumbuh kembang, nyeri, dan lain-lain yang dapat terjadi karena kecelakaan, penyakit, ataupun yang didapat sejak lahir.
ORPROS’T akan membantu anda memilih dan menyediakan alat alat Ortosa Prostesa yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan pasien sehingga akan mampu meningkatkan & mengembalikan fungsi pada tingkat tertinggi yang disesuaikan dengan kondisi dan lingkungannya sehingga mampu untuk beraktifitas kembali.
          Seiring dengan perjalanan waktu dan kecanggihan tehnologi maka ORPROS’T semakin berkembang baik berupa peralatan, mesin, material / komponen mapun SDM nya, sehingga produk produk yang dibuat menjadi produk yang bermutu tinggi dan berkwalitas dengan tetap memikirkan daya beli masyarakat. Untuk menciptakan SDM yang terampil dan berkwalitas maka kami mengirimkan ahli ahli kami untuk belajar keluar negri seperti ke Swedia, Jerman dan negara negara maju lainnya dan tetap menjalin hubungan kerja sama dengan ahli-ahli ortotik prostetik diluar negeri dalam rangka tukar menukar tehnologi.


Jumat, 06 Juni 2014

Resensi novel Sang Pencerah

Resensi Novel
Sang Pencerah

 



Penulis             : Akmal Nasery Basral
Tahun Terbit    : Juni 2010
Judul Buku      : Sang Pencerah
Penerbit           : Mizan
Tebal Buku      : 461
ISBN               : 978-797-433-596-3


            Novel ini menceritakan tentang seorang bayi laki-laki di desa kauman yang bernama darwis. Ia di lahirkan dari kalangan keluarga biasa dan bisa tumbuh menjadi orang yang luar biasa. sepulang dari mekah nama darwis diganti menjadi Ahmad Dahlan. Setelah beranjak dewasa ia  banyak melihat tradisi-tradisi sesajen  berbaur dengan agama islam yang menurutnya dapat menyesatkan. Ahmad dahlan merupakan sesosok pemuda pendobrak tradisi, yang tak lain berniat agar islam kembali menjadi rahmad dan berkah.
 Novel ini  mengungkapkan  tentang kegelisahan seorang pemuda yang berumur 21 tahun atas pelaksanaan syariat islam yang melenceng ke arah sesat,syirik, dan bid’ah. pemuda itu  mempunyai pemikiran bahwa kemiskinan di sebabkan karena adanya kebodohan, ia akan merubah kebiasaan-kebiasan masyarakat yang dianggap melenceng dari ajaran islam.   
 Di dalam perjalanan untuk menegakkan islam begitu banyak kendala yang harus dihadapi. Diawali dengan mencoba mengubah arah kiblat disalah satu masjid yang ia anggap salah penempatan arah kiblatnya, ia mendapatkan fitnahan dan cercaan dari seorang kyai fanatik.  Semangatnya pun tidak pernah luntur  walaupun usulannya di tolak Ahmad Dahlan tidak serta merta menyerah  begitu saja, ia memulai pergerakan dakwahnya dari pondok kecilnya  dengan merubah arah kiblat yang benar. Melihat hal itu kyai kamaludingrat meradang dan segera merobohkan pondok itu karena dianggap mengajarkan aliran sesat. Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai kafir karna membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern belanda.
Novel ini sangatlah menarik,menggambarkan kyai Dahlan  yang sangat manusiawi. Dibalik perjuangannya untuk mempertahankan visi dan misinya ada sesosok perempuan tegar yang selalu mensuport dia dari belakang perempuan itu adalah walidah istri dari Ahmad Dahlan. Didampingi oleh istri dan beserta lima muridnya Ahmad dahlan bertekat un tuk mendirikan organisasi yang di beri nama M uhammadiyah dengan tujuan untuk mendidik/ mengajarkan umat islam agar bisa berpikir maju sesuai dengan perkembangan zaman namun tetap memenuhi syariat islam.
Inilah novel yang memacu semangat kita untuk terus berjuang demi mendapatkan cita-cita yang mulia. Kekecewan, cercaan, bahkan hinaan bukanlah penghalang utama jika anda sanggup melewatinya hal terindah akan anda terima.
Novel ini mudah dipahami dan diterima oleh berbagai kalangan karna penggunaan bahasanya sangat mendasar, kata- kata yang digunakan bersifat membangun,alurnya  cukup jelas dan tidak terbelit- belit. Akan tetapi tema yang digunakan kurang berkesan, susahnya penghafalan nama tokoh pada cerita tersebut.


Sumber : http://erlendchayangmoe.blogspot.com/2012/07/resensi-novel-sang-pencerah.html

Resensi Cerpen Setangkai Bunga Bermahkota Biru

RESENSI CERPEN
Setangkai Bunga Bermahkota Biru

1). Indentitas Cerpen
     a. Judul Cerpen         : Setangkai Bunga Bermahkota Biru
     b. Nama Pengarang   : Umar Said
     c. Tempat Terbit        : Yogyakarta
     d. Tanggal Terbit        : 5 April 2009
     e. Jumlah Halaman     : 3 Halaman
     f. Jumlah kata-kata    : 1253 kata

2). Sinopsis Cerpen
Puspita, seorang gadis yang banyak tahu akan tentang makna bunga mulai dari jenis bunga, makna tiap bunga yang ia kenal, warna bunga, dan semua bagian-bagian bunga ia dapat mengartikan setiap bagian dari bunga yang dikenalnya. Suatu hari ada seorang pria dengan sangat memprihatinkannya duduk disebuah taman bersama seorang adiknya yang bermain di taman ditaman tersebut. Puspita yang heran lantas menghampiri seorang pria yang tengah termenung juga. Kebetulan juga pria tersebut menyukai bunga walaupun ia sempat berkata “Aku juga tidak tahu kapan aku mulai menyukai bunga” pria itu berkata kepada Puspita tentang satu bunga yang pernah pria itu milikki, tanpa enggan Puspita menikmati cerita pria tersebut. Sekuntum bunga bukan anggrek dan bukan juga mawar. Puspita yang mendengarnya langsung seloroh saja bercerita tentang bunga anggrek sepengetahuannya; “Aku mengenal anggrek. Tahukah kau, anggrek adalah simbol cinta, kemewahan, dan keindahan.” Si pria hanya menjawab “aku tahu.” “Bangsa yunani menggunakan anggrek sebagai simbol kejantanan. Dan bangsa tiongkok percaya aroma anggrek berasal dari tubuh kaisar mereka. Jika anggrek muncul di mimpi seseorang, hal itu dipercaya sebagai simbol dari kebutuhan akan kelembutan, romantisme, dan kesetiaan. Bahkan anggrek jadi bahan baku utama dari ramuan cinta. Begitu dahsyat bukan?” Gadis itu panjang lebar menceritakan kembali tentang bunga anggrek. Lama-kelamaan si pria justru ingin mendengar tentang bunga mawar dan dengan senang hati Puspita bercerita; “Dari budaya barat, kita mengenal mawar sebagai cinta dan kecantikan,” imbuh si gadis. Bahkan di Inggris mawar dijadikan bunga nasional. Di Kanada, bunga mawar liar merupakan bunga provinsi Alberta. Di Amerika Serikat, bunga mawar merupakan bunga negara bagian Iowa, North Dakota, Georgia, dan New York. “Mawar merupakan lambang dunia!,” teriak gadis itu lantang bersemangat. Puspita melanjutkan; “Biasanya untuk menyatakan seberapa besar cinta. Satu tangkai berarti cintaku hanya untukmu seorang. Dua tangkai, kau dan aku saling mencintai. Tiga tangkai, aku cinta kamu. “Semakin banyak, semakin kuat maknanya.” 100 tangkai, jadilah pasangan yang mengasihi sampai lanjut usia. 144 tangkai, mencintaimu pagi hingga malam selama-lamanya. 365 tangkai, memikirkanmu setiap hari, mencintaimu setiap hari. Hingga 1001 tangkai yang melambangkan cinta selamanya.” Si pria hanya berkata “banyak sekali, aku hanya memiliki setangkai.” Dan pria itu menekankan bila pria itu memiliki satu tangkai bunga namun memiliki banyak makna akan bunganya itu, lebih dari seribu tangkai, dan mengartikannya sebagai Cinta Sepenuhnya ujar pria itu, seketika membuat Puspita diam. Kemudian si Gadis bertanya kepada si pria tentang apa warna bunga pria yang dimiliki pria itu, sempat tidak ada jawaban dari mulut si pria. Puspita berkata;”Aku paham tentang warna-warna bunga.” namun akhirnya si pria berkata “bungaku berwarna biru.” Namun Puspita tidak percaya dengan diperkuat dengan pengetahuaannya tentang warna bunga; “Di mawar saja, merah lambang cinta romantis. Putih, kesucian dan rahasia. Merah jambu, keanggunan dan kelembutan. Kuning, persahabatan dan kegembiraan. Jingga, hasrat dan semangat, cinta yang mulai tumbuh. Tak ada warna biru,” jelas gadis itu. namun pria itu bersikeras bila bunganya berwarna biru;
“Tapi aku ingat, bunga itu bermahkota biru.”
“Apakah kau merasa kehilangan? Seperti aku kehilangan makna warna biru.”
“Bisa jadi.”
“Jadi warna itu tinggal kenangan? Mengapa kau tak memanamnya lagi?”
“Tidak.”
“Mengapa?”
“Karena aku takkan menanam bunga yang telah layu.”
Si gadis menatap heran. Ia tak mengerti. Seharusnya bukankah pria itu bisa menanamnya lagi. Lelaki itu hanya menatap taman yang penuh dengan bunga putih. Namun setelah berpikir beberapa saat, si gadis baru mengerti. Tiba-tiba langit mendung. Suasana sedikit temaram. Romantis. Titik-titik gerimis menyirami. Sejuk rasanya. Tercium aroma wangi tanah.
“Dan sekarang inginkah kau memiliki bunga lagi?”
“Tentu saja.”
“Benarkah?”
“Benar. Kenapa tidak.”
“Jika ada bunga berwarna biru, benar mau?”
“Yakin. Mau.”
“Kau tahu namaku Puspita?”
“Iya. Aku tahu.”
“Tahukah kau maknanya?”
“Tidak. Memangnya?”
“Puspita itu bunga. Sekarang jadikan aku bungamu.”
Seketika si lelaki mengalihkan pandang dari taman. Bola matanya haru menatap tajam ke gadis bergaun biru itu.

3). Analisis Unsur Instrinsik
     a. Tema              : Bunga yang Melambangkan Cinta
     b. Setting            : Suatu sore yang mendung di suatu taman dengan penuh bunga putih
     c. Alur                : Campuran
     d. Tokoh             : Si Pria kaku dan Puspita, gadis banyak tahu tentang makna bunga
     e. Perwatakan     : Si Pria ( kaku dan banyak diam ), Puspita ( cerdas dan sangat ingin tahu )
     f. Sudut Pandang : Pengarang sebagai orang ketiga yang banyak tahu
     g. Amanat           : “Segala sesuatu yang telah tercipta dalam kehidupan ini tidak dilahirkan begitu saja
                                  tanpa makna dan sebuah arti. Contoh ringanya setangkai bunga yang tiap-tiap bentuk,
                                  jumlah tangkai, warna mahkota, dan harumnya. Seperti yang Puspita ceritakan. Jadi,
                                  semua yang ada pada kehidupan kita ini memiliki artinya sendiri sama seperti manusia
                                  yang memiliki arti hidupnya masing-masing dengan bunganya masing-masing.”

4). Analisis Unsur Ekstrinsik
    a. Nilai moral : cinta selalu membawa keindahan bagi setiap memilikinya beribu-ribu kali indahnya dari
                           memiliki seribu tangkai bunga mawar.
    b. Nilai sosial : semua hal yang telah tercipta memiliki maknanya sendiri-sendiri, tidak terlahir tanpa
                           mempunyai maksud dan tujuannya.

5). Keunggulan Cerpen
     a. Menawarkan banyak pengetahuan didalam isi cerita cerpen ini seperti halnya makna bunga-bunga yang
         indah.
     b. Bahasanya yang ringan dan mudah dimengerti.
     c. Tokohnya terdiri dari dua tokoh yang membuat cerita menjadi satu-kesatuan cerita yang padu, tanpa
         menghadirkan tokoh yang berlebihan didalam cerita.
     d. Ceritanya menganut cerita yang mudah dipahami oleh kalangan remaja saat ini sehingga memungkinkan
         menarik minat baca kaum muda.

6). Kelemahan Cerpen
     a. Cerita yang terlalu panjang dan menggantung.
     b. Pembaca harus benar-benar mengerti jalan ceritanya karena pemikiran pengarang yang tinggi sehingga
         ceritanya sulit untuk dicerna.

7). Kesimpulan
     “Berdasarkan dari keungglan dan kelemahan cerpen diatas, sebagai perensensi suatu bacaan menilai
     cerpen atau bacaan ini layak untuk di publikasikan di masyarakat.”


Sumber : http://hancur12345.blogspot.com/2012/08/judul-cerpen-cinta-adalah-kesunyian.html